Hongkong Park, Mungil itu Bukan Berarti Kecil

Peta Hongkong Park

Barkeley/USA, Suara Komunitas (Ruyuk FM). Apa yang harus diperbuat saat Transit 8 jam di Hongkong ? Terlintas bayangan membosankan jika itu terjadi. Naluri menggunakan wejangan dari om google pun dilakukan dengan mencari tahu bagaimana bisa memasuki wilayah Hongkong ?. Syukur segala informasi tentang bagaimana cara menuju Hongkong tidaklah merepotkan. Informasi bahwa memasuki dan tinggal tidak lebih dari 30 hari di Hongkong, tidak memerlukan Visa masuk menjadikan terawangan sebelum berangkat menjadi sebuah peluang yang tiada tara bagi seorang Petani untuk menikmatinya selama 8 Jam. Tidak lagi banyak informasi yang dicari, selain mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan sekitar 5 jam menuju Hongkong dengan menggunakan Pesawat Air Bus A 330 Chatay Pacific. Persis Jam 00.05 Waktu Indonesia Barat  (Selasa, 4/10) Pesawat yang kami tumpangi tinggal landas dengan mulus.

Sesuai jadwal kami pun tiba di pagi hari (05.50 waktu Hongkong). Berbekal informasi dari Mang Google, diberanikan diri ikut mengantri di loket Imigrasi Hongkong. Luar biasa, pengalaman beratus ratus tahun jadi tujuan wisata, ternyata Imigrasi Hongkong begitu ramah dan tidak banyak bertanya dan menyampaikan “Welcome to Hongkong, Have a nice day” sambil bunyi ketuk ketuk stempel izin masuk untuk 30 hari bermukim di Hongkong. Jalan Tuhan lagi baik, pas keluar ada yang negor, “dari Indo ya?”. Anggukan dibalas dengan jabatan erat sambil menyebut nama Herman dari Jawa Timur. Sepontan di jawab “Wow nama kita tidak jauh berbeda, namaku Irman.” Herman kerja lebih dari 7 tahun di Arab Saudi sebagai petugas listrik disalah satu supermarket di kota Madinah. Dia menawarkan diri untuk sama sama jalan ke Hongkong dan menyampaikan bahwa dirinya punya saudara yang akan memandunya selama di Hongkong.

Sambil menunggu penjemput, kami pun ngobrol cukup mendalam tentang latar belakang keduanya. secara personal informasi mengenai rencana perjalanan ke Amerika pun di jelaskan secara rinci begitupun sebaliknya. Mengenai mau kemana kami di bawa sepenuhnya diserahkan kepada saudara yang akan menjemput. Tidak lama berselang yang disebut saudara pun datang. Ternyata yang jemput seorang perempuan muda nan cantik bernama Yuni berasal dari Kediri. Sebagai orang yang cukup paham dan sebagai kawan baru momen pertemuan tersebut dibiarkan sepenuhnya kepada mereka berdua. Kami berangkat menuju Kota Hongkong dengan menggunakan bus bertingkat E 11 jurusan Central. Selang 1.5 jam kami pun tiba dan berhenti di halte Admiral Hongkong, tentu saja perjalan menuju ke arah itu mata yang sudah 2 tahun hanya berkebun ini ga pernah berkedip melihat hebatnya infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan dan gedung perkantoran sambil bertanya pada diri sendiri, “Kenapa Hongkong bisa seperti ini sementara negara super kaya sumber daya seperti Indonesia ga bisa ya ?”. Ah lupakan itu pertanyaan itu, matapun fokus untuk mempelajari Hongkong dari bus kota sambil melirik jam berapa banyak waktu sampai ditujuan agar dapat mengatisipasi saat pulang ke bandara. Oh ya, Bandara Hongkong saat ini punya fasilitas Kereta Cepat (Airport Express) yang hanya butuh waktu 24 menit, sementara dengan bus yang saya tumpangi butuh 90 menit.

Saat tiba di Admiral, mata pun berusaha mencari tanda dimana posisiku berada. Kebiasaan membaca sewaktu sekolah, memudahkan cara mengenal Hongkong. Tahun 90-an Hongkong mengenalkan salah satu bangunan megah yang jadi kantor HSBC. ternyata bangunan tersebut tidak jauh dari pandangan ini. Jadilah “I am in Hongkong Now”. Mba Yuni yang sudah 2 tahun bekerja di Hongkong pun membimbing kami menuju bangunan dengan menggunakan tangga berjalan yang cukup tinggi. Ga ngerti dan ga ngeh mau dibawa kemana orang kampung ini. Diluar dugaan, setelah melewati beberapa tingkat (kalau di bandingkan naik gedung) kami bertiga tiba di sebuah jalan yang kendaraannya cukup padat. “Pertanyaanku, Dimana ini ?” Tanpa keluar dari mulutpun, Mba Yuni kelihatannya sudah mampu mendengar pertanyaan polos ini. Dia dengan gamblang menjelaskan bahwa kami bertiga saat ini berada di Hongkong Park. Salah satu tempat unik yang dipunyai otoritas Hongkong dan menjadi salah satu tujuan wisatawan yang tidak punya waktu luang (Seperti kami berdua-Herman dan Irman) untuk datang ke Hongkong. Diam dan tidak banyak bertanya langsung karena pikiran ini dikalahkan oleh keingintahuan, Apa yang disebut Hongkong Park ini ?. Kenapa berada di tengah tengah bangunan super jangkung ?, bagaimana membuatnya ? Apa manfaatnya ? dan banyak pertanyaan hati ini yang tidak sempat keluar dari mulut yang membisu ini.

Hongkong Park

Berusaha untuk mengenal Hongkong Park ?. Kamera yang menempel ini dialihkan untuk mencari peta dan membaca semua informasi yang tertera. Tidak banyak info diperoleh, carapun dirubah. keberanian pun ditambah untuk berinteraksi dengan Mba Yuni yang terus berpegang erat dengan Wong Ponorogo ini. Pertama Yuni mampu menjelaskan ada apa saja di areal taman seluas 8 hektar ini. Yuni dengan fasih membawa diri ini seolah olah sudah mengenal Hongkong Park bahwa didalamnya ada bermacam tumbuhan, bunga, kolam, air terjun, gua, satwa burung dan bangunan tua megah berdiri ditengah tengah taman. 8 Hektar dan berada di kemiringan tapi mampu menampung begitu banyak jenis tumbuhan dan hewan, sambil menunjuk kearah ketinggian mba yang dulunya pingin kuliah tapi malah terdampar di Hongkong ini menerangkan, “Mas di atas sana itu kita bisa melihat banyak kupu kupu”. Diam, mendengar dan terus memantau lokasi bagiku lebih penting.

Pertanyaanku mulai mengarah pada bagaimana kebiasaan Yuni saat punya waktu luang, “Apakah Yuni punya banyak teman di Hongkong ?”, dengan mantap dia menjawab “YA”. Apakah lokasi ini jadi ajang untuk bersilaturahmi ? dia bilang Ya, tapi ada lokasi yang jadi favorit para pekerja asal Indonesia yakni Causeway Bay. Di sana begitu banyak orang kita berkumpul, kami pun sering beribadah bersama dan sesekali hanya kongko kongko. Kami (Yuni dan kawan kawan) sering bertemu di Hongkong Park karena lokasi ini dengan tempat tinggal saya dekat sekali, sambil menunjuk satu bangunan tinggi yang bagi saya secara sepintas bangunan tersebut sulit dibedakan dengan lainnya.

Sekali lagi menurut Mang Google, Hongkong Park ini mulai dibuka pada tahun 1991 dengan biaya sebesar 398 Juta Dollar. Bukti lain dari keseriusan Pemerintah Hongkong dalam melayani masyarakat bahwa betapa penting warganya mendapatkan hak menghirup udara segar, bebas dari kebisingan, berhak untuk mendapatkan media untuk berinteraksi dan tentu saja keberadaan taman ini akan menambah nilai jual pariwisata dan kunjungan wisatawan mancanegara.

Tulisan ini didedikasikan buat Warga Mandalamekar terutama anggota Mitra Alam Munggaran yang telah melakukan hal hal mungil di desanya dan manfaatnya bukan saja untuk dirinya tapi untuk dunia. Suatu usaha yang tidaklah sia sia, hal luar biasa yang diakui dunia. Mungil bukan berarti kecil dan tidak berarti, tapi keberadaan Hongkong Park semoga dapat dilihat oleh pemimpin bangsa Indonesia untuk memperhatikan usaha usaha mungil seperti di Desa Mandalamekar. Tidak lupa kepada saudara Herman dan Mba Yuni, semoga tali silaturahmi Arab Saudi dan Hongkong bisa diteruskan di jenjang yang lebih serius.

Mengenal jauh tentang Hongkong Park, silahkan tanya Mang Google saja ya. Sementara itu untuk mengenal kami lihat di http://mandalamekar.or.id dan https://mandalamekar.wordpress.com

One Response to “Hongkong Park, Mungil itu Bukan Berarti Kecil”

  1. Lowongan Kerja Says:

    Hong Kong someday i will go there

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: