Cabe Rahong Tembus Pasar Kramat Jati

Petani Cabe Rahong di Kampung Cilingga sedang melakukan pemeliharaan

Petani Cabe Rahong di Kampung Cilingga sedang melakukan pemeliharaan

Petani Cabe Desa Mandalamekar telah menembus Pusat Pasar Grosir Kramat Jati Jakarta Timur. Selama menembus pasar ibukota ini Cabe Rahong Jenis TM999 menjadi produk unggulan dipasar Kramat Jati. Menurut petani Cabe dari Dusun Mekarjaya, Mang Entang selama ini hasil produk pertaniannya terserap seratus persen oleh pedagang di Jakarta dan Tasikmalaya. “Kami datang ke pasar Kramat Jati, 3 – 4 jam berikutnya pedagang datang untuk membayar lunas seluruh produk kami” kata Mang Entang.

Cabe Rahong Jenis TM999 yang dihasilkan dari petani Cabe Mandalamekar

Cabe Rahong Jenis TM999 yang dihasilkan dari petani Cabe Mandalamekar

Pelopor tanam cabe rahong, Pak Ade Priatna mengatakan petani yang berasal dari Dusun Cinunjang dan Dusun Mekarjaya selama 9 bulan terakhir  atau produksi tahun 2009 telah menjual 8 ton ke Pasar Induk Kramat Jati dan 2 ton ke pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya. Lebih lanjut Pak Ade yang sehari harinya mengajar di SMP N 2 Jatiwaras ini menjelaskan bahwa kelompok petani cabe Mandalamekar yang berjumlah 35 orang ternyata secara berkesinambungan terus menanam cabe dan telah digelutinya selama 7 tahun, bahkan sempat dikunjungi Bupati Tasikmalaya. “para petani belajar menanam secara otodidak, keberhasilan mereka karena mereka mau berkorban untuk ekperimen dalam penanaman” ujar Ade Priatna.

Sementara itu Kepala Desa Mandalamekar, Yana Noviadi mendapat keluhan dari para petani sendiri saat ini masih mendapat kendala besar yang datangnya bukan dari hasil produksi tetapi berasal dari luar. Menurut kepala desa, Kesulitan yg dihadapi petani yang sangat dirasakan adalah hancurnya jalan masuk Desa Mandalamekar sehingga ketika harga turun sulit bersaing dengan daerah lainnya. Hal itu juga menyebabkan petani cabe Mandalamekar tidak pernah terlayani oleh penyuluhan pertanian.

8 Responses to “Cabe Rahong Tembus Pasar Kramat Jati”

  1. uanolednad Says:

    naha hasil tatanen ua kayaning terong, takokak, bonteng, surawung srengn hui cilembu ala petir, waluh siem tur nusanesna, sanaos mung sakadar konsuntif (tibatan meser, piraku lahan aya kudu “MESER KA KOTA”

  2. mandalamekar Says:

    Mangga engke dibewarakeun ka sadayana supados produk pertanian anu ua diserap ku pasar. sabaraha ton hasil pertanian anu ua teh

  3. uanolednad Says:

    sanes icaleun, da sifatna konsuntif, supaya warga ulah barangbeuli nu msh keneh bisa diusahakeun, tanah ublug ablag, da monyet mah sieuneun ari ku jelema mah, tah baru sessa warg untuk dipasarkeun, sugan lakuuuuu, kitu tah, ulah meuli cengek meuli, hayang botrm meuli hayam, iraha atuh arek marotekarna ? sanes kitu ?

  4. chubit Says:

    Upami tiasa urang sharing kumaha tata cara nanem (bercocok tanam) cabe teh, supados kualitas cabe tiasa sapertos ti rahong
    hatur nuhun

  5. chubit Says:

    BUDIDAYA CABE

    A. PENDAHULUAN
    Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.

    B. FASE PRATANAM
    1. Pengolahan Lahan
    • Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
    • Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
    • Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
    • Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm
    • Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)
    – Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk.
    Atau 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m.
    – NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 – 10 meter.
    • Campurkan GLIO 100 – 200 gr ( 1 – 2 bungkus ) dengan 50 – 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.
    • Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 – 2 minggu ).

    2. Benih
    • Kebutuhan per 1000 m2 1 – 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30
    • Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 – 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

    C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
    1. Persiapan Persemaian
    • Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
    • Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

    2. Penyemaian
    • Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring
    • Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS
    • Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban

    3. Pengamatan Hama & Penyakit
    a. Penyakit
    • Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
    • Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
    • Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.

    b. H a m a
    • Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan
    pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.
    • Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.
    • Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip

    D. FASE TANAM
    1. Pemilihan Bibit
    • Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus
    • Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 – 30 hari)

    2. Cara Tanam
    • Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
    • Plastik polibag dilepas
    • Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

    3. Pengamatan Hama
    • Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI
    • Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ),
    Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.
    • Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.

    E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)
    1. Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.
    2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 – 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang.
    Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :
    Jenis Pupuk 1 – 4 minggu (kg) 5 – 12 minggu
    (kg)
    Urea 7 56
    SP-36 7 28
    KCl 7 28

    Catatan :
    – Umur 1 – 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi)
    – Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi (± 14 tong/aplikasi)
    3. Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
    4. Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 – 30 hr.
    5. Pengamatan Hama dan Penyakit
    • Spodoptera litura/ Ulat grayak Lihat depan.
    • Kutu – kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.
    • Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO
    • Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.
    • Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha
    • Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.

    F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN
    1. Pemanenan
    • Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
    • Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
    • Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph

    2. Cara panen :
    • Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
    • Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
    • Penyortiran dilakukan sejak di lahan
    • Simpan ditempat yang teduh
    3. Pengamatan Hama & Penyakit
    • Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak

    Sumber : Departemen Pertanian RI

  6. mandalamekar Says:

    Nuhun pisan, katampi ilmu anu disharing na, Insya Allah urang lembur tiasa meningkatkan hasil panen na.

  7. muhamad Says:

    saya butuh bantuan bagi yang tahu cara mengatasi penyakit busuk basah pada tanaman cabe, jika ada cara tradisional tolong dong….kalo pake obat2an blum begitu dapat membasmi….tlong dong gue….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: