Dari IDT menuju Desa Mandiri

Kondisi Jalan Kabupaten yang dibiarkan sebelumnya.

Kondisi Jalan Kabupaten yang dibiarkan sebelumnya.

Desa Mandalamekar yang berada di tengah tengah perbukitan Kabupaten Tasikmalaya bagian selatan ini termasuk pada desa tertinggal. Banyak faktor kenapa desa ini masuk dalam kategori kelas terendah satu komunitas paling dasar di republik ini, dari berbagai aspek apapun desa ini dari dulu memang minus seperti; pertama, bertahun tahun desa ini tidak mempunyai akses jalan yang baik. Masyarakat diberikan beban lebih berat dibanding dengan masyarakat desa lainnya. Ongkos perjalanan menuju kota untuk berinteraksi dan membawa hasil usaha/pertanian dari desa harus lebih mahal dan tentu saja waktu tempuh untuk 30 KM dari Pusat Kota Tasikmalaya harus mencapai rata rata 2 – 3 jam. Jumlah waktu yang seharusnya sama atau lebih untuk mencapai kota Bandung atau Cianjur dari Tasik dengan jarak lebih dari 140 KM.

Kondisi Jembatan sebagai akses menuju kota

Kondisi Jembatan sebagai akses menuju kota

Bukan waktu dan tenaga yang sedikit yang harus ditanggung warga Mandalamekar. Untuk memperlancar gerak ekonomi dan transportasi warga Mandalamekar sudah terbiasa secara mandiri membangun infrastruktur tanpa bantuan dari Pemerintah. Bertahun tahun Desa Mandalamekar menunggu janji Bupati dan pemerintah yang lebih tinggi tanpa ada kejelasan kapan jalan tersebut dapat dilintasi dengan nyaman oleh penggunanya.

Rumah Warga yang punya status tidak sejahtera tanpa listrik

Rumah Warga yang punya status tidak sejahtera tanpa listrik

Kedua, Listrik masuk desa yang dirasakan warga jauh tertinggal dari desa desa lainnya. Dengan alasan sulitnya sarana jalan, aliran listrikpun mengikuti dengan damai datang ke Mandalamekar pada akhir tahun 90-an. Sebelumnya warga menerangi desanya dengan kayu dan bahan alam lainnya.

Ketiga, akses pendidikan yang jauh tertinggal walaupun berdampak positif bagi warganya untuk mandiri mengikuti pendidikan formal. sampai akhir tahun 90-an untuk mengikuti jenjang pendidikan SMP saja, warga diwajibkan jalan kaki berjarak 7 – 10 KM untuk mencapai SMP negeri terdekat di SMPN Cibalong. Dengan semangat juang yang tinggi akhirnya Desa Mandalamekar mendapat satu SMP Negeri Jatiwaras yang selama ini mampu mengentaskan capaian pendidikan dasar 9 tahun. Sementara untuk mendapat pendidikan lebih tinggi warga harus rela mengeluarkan dana tambahan untuk tinggal di kota kota terdekat.

Keempat, kualitas kesehatan dan pelayanan jauh dari standar kesehatan yang harus diterima warga Mandalamekar. Keberadaan bidan menjadi tulang punggung semua hal yang berhubungan dengan dunia Kesehatan. Warga tidak diberikan alternatif untuk hidup sehat dan mendapat fasilitas kesehatan yang standar. Baru pertengahan tahun 2009 ini ada rencana dibangun Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (PUSTU) di Desa Mandalamekar. Itupun baru rencana bisa saja ada perubahan seperti kejadian kejadian sebelumnya. Janji tinggalah janji.

Karena generasi muda ke kota, Desa Mandalamekar memiliki banyak lahan tidur

Karena generasi muda ke kota, Desa Mandalamekar memiliki banyak lahan tidur

Kelima, Sektor Ekonomi dan Budaya bisa dikatakan punya hal yang sama seperti beberapa alasan sebelumnya. Masyarakat diberikan untuk hidup secara mandiri tanpa tersentuh oleh fasilitas yang diterima diperkotaan. Biaya hidup lebih tinggi dengan nilai jual jauh lebih rendah akibat hancurnya sarana transportasi telah berdampak pada tingginya arus muda masyarakat Mandalamekar menuju perkotaan. Warga semakin tidak percaya dapat hidup sejahtera di Desa. Dan tertinggal tinggal orang tua yang tidak lagi produktif untuk mengisi hari hari di Desa Mandalamekar.

Dengan alasan itulah Desa Mandalamekar secara tidak langsung telah mengalami tempaan yang begitu mendasar dari satu kondisi desa tertinggal. Pemikiran-pemikiran besar dan strategis telah mengemuka disebagian besar masyarakat. kembali ke alam dan mengoptimalkan alam menjadi bagian penting yang saat ini muncul dipermukaan dan pikiran warga. Ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian dan lainnya kembali diperbaiki. Hutan yang menjadi penopang hidup warga mulai dipulihkan. Sarana desa mulai diperbaiki dengan tentu saja bersumber dari kemandirian dan modal yang bukan dari pemerintah.

Semangat desa dan warga seperti ini yang terus mengalirkan semangat kemandirian

Semangat desa dan warga seperti ini yang terus mengalirkan semangat kemandirian

Mandalamekar akan terus menjadi desa yang tidak tergantung pada bujukan pemerintah dan politisi yang datang 5 tahun sekali saat pemilu mau berlangsung. Mandalamekar akan terus bergerak dengan kemandirian yang saat ini sudah tumbuh dan pondasi tersebut lebih kuat dibanding desa desa lainnya. Kerja sama, kerja bakti dan goton royong menjadi roh yang terus mempersatukan semangat kemandirian itu tetap ada. Keberadaan pemerintah adalah fasilitator yang akan terus didudukan seperti itu. Tidak lebih, karena memang peran pemerintah selalu tertinggal di Desa Mandalamekar.

One Response to “Dari IDT menuju Desa Mandiri”

  1. Heri heryanto Says:

    continue to struggle do not care about the negative comments to a village self-reliant

    htr.nhn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: